Beluga XL mampu mengangkut tujuh gajah Afrika dewasa sekaligus

Airbus, pabrik pesawat terbang bermarkas di Eropa, pekan lalu untuk pertama kalinya sukses menerbangkan pesawat berukuran superjumbo. Namanya Beluga XL. Ukuran pesawat ini lebih besar ketimbang sang kakak, Beluga ST, yang telah beroperasi sejak pertengahan 1990. Uniknya, pesawat ini dirancang menyerupai paus raksasa putih beluga yang sedang tersenyum. Itu sebabnya pesawat ini dijuluki “paus yang terbang di langit”.

Untuk pertama kalinya, Beluga XL diterbangkan dari Hanggar L43 Airbus di Toulouse, Prancis, dan disaksikan oleh 10 ribu undangan. Airbus A330-743L Beluga XL memilik dimensi enam meter lebih panjang dan satu meter lebih lebar ketimbang pendahulunya, Beluga ST. Dengan tambahan dimensi tersebut, kapasitas daya angkutnya pun bertambah 30 persen. Menurut Airbus, dengan tinggi 19 meter, Beluga XL setara dengan bangunan bertingkat tiga.

baca juga : http://sasalutawamudu.org/keunggulan-yang-terdapat-pada-mesin-genset-yanmar/

Adapun daya angkutnya mencapai 51 ton. Dengan kata lain, Beluga XL mampu mengangkut tujuh gajah Afrika dewasa sekaligus. Berbeda dengan pesawat pada umumnya yang ramping memanjang, bodi Beluga XL jauh dari kesan langsing. Lantaran memang khusus dibuat untuk mengangkut berbagai barang besar, bodi Beluga XL menggelembung di bagian atas hingga ke bagian kokpit.

Kedua sayapnya, yang memiliki rentang hingga 60 meter, terlihat pendek dan gemuk dibanding badannya yang berukuran super-jumbo. Secara keseluruhan, Beluga XL memang menyerupai ikan paus beluga yang sedang tersenyum. Airbus membutuhkan pesawat kargo dengan daya angkut besar untuk membawa komponen pesawat terbang komersial buatannya, seperti sayap atau potongan badan Airbus A350.

Potongan-potongan itu akan diangkut dari Jerman, Prancis, dan Cina. “Produksi pesawat Airbus selama ini hanya dilakukan di Eropa. Sekarang di seluruh dunia,” ucap Iain Gray, direktur aerospace di Cranfield University, Inggris. “Ini membuktikan bahwa kami telah berhasil mentransformasi teknologi dirgantara ke berbagai negara.” Pesaing Airbus, Boeing, juga menerapkan strategi bisnis serupa, yakni menyebar pembuatan komponen pesawatnya ke beberapa negara. “Boeing juga meninggalkan sistem terpusat menjadi lebih terbuka,” ucap Gray. Salah satu tugas Beluga XL adalah mengangkut sayap pesawat A350 untuk dirakit di markas Airbus di Toulouse. “Dengan pesawat ini, kami dapat mengangkut barang lebih banyak,” ucap Bertrand George, kepala proyek Beluga XL. “Sekarang dua sayap bisa diangkut sekali jalan.”

Meski tampilannya luar biasa, desain Beluga XL tak sepenuhnya baru. Pesawat ini dibuat berbasis desain A330-200 freighter. Bedanya, para teknisi Airbus membuang atap dan kokpit A330-200 dan menggantinya dengan struktur baru agar bisa mengangkut barang dari depan. Meski ukurannya terbilang super-jumbo, Beluga XL bukan pesawat kargo terbesar yang ada saat ini. Pesaingnya tak lain adalah pesawat bikinan Boeing, Dreamlifter, yang biasa mengangkut komponen pesawat 787 Dreamliner dari Jepang dan Italia ke tempat perakitan di Washington dan South Carolina. Bila tampilan Airbus Beluga XL menyerupai paus putih raksasa, Dreamlifter lebih mirip ular yang sehabis menelan seekor sapi bulat-bulat.